Kehidupan ini adalah
nyata. Lebih nyata dari pendapat siapa pun tentang kenyataan. Ia terus
bergerak, mengalir, dan berubah. Hari ini, seseorang miskin bertelanjang
kaki. Esok hari, tiba-tiba ia menjadi miliyuner yang membangun gedung
pencakar langit yang tinggi. Nabi ﷺ pernah bersabda menggambarkan
situasi kehidupan akhir zaman,
“Dan bila engkau menyaksikan mereka yang berjalan tanpa alas kaki,
tidak berpakaian, fakir, dan penggembala kambing, (kemudian)
berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi.”
Sabda beliau ini nyata! Lebih nyata dari pendapat siapapun tentang kenyataan.
Kali ini kita bercerita tentang Dubai, sebuah emirat (propinsi) di
negara Uni Emirat Arab yang menjadi bukti dari sekian banyak kebenaran
sabda Nabi.
Sabda Nabi ﷺ
Suatu hari, bumi menjadi saksi pertemuan dua makhluk agung dan mulia.
Malaikat yang terbaik berjumpa dengan manusia termulia. Malaikat Jibril
datang menjumpai Nabi kita Muhammad ﷺ. Jibril datang dengan wujud
manusia. Ia datang dengan penampilan indah. Mengenakan baju yang teramat
putih ditimpali warna rambut yang hitam kelam. Ia datang berdialog
dengan Nabi Muhammad ﷺ untuk memberikan pengajaran kepada para sahabat.
Jibril bertanya tentang Islam, iman, dan ihsan. Kemudian ia bertanya
tentang tanda kiamat. Di antara jawaban Nabi ﷺ adalah,
“Dan bila engkau menyaksikan mereka yang berjalan tanpa alas kaki,
tidak berpakaian, fakir, dan penggembala kambing, (kemudian)
berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi.” (HR. Muslim).
Inilah di antara tanda-tanda hari kiamat. Tanda hari kiamat ada yang
sifatnya baik. Ada pula yang buruk. Ada pula hanya sekedar kabar atau
tanda yang aslinya tidak bersifat baik ataupun buruk. Hanya sekadar
tanda dan kabar agar manusia sadar bahwa kiamat pasti terjadi. Contohnya
seperti berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi ini.
Dalam hadits lain, yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ada keterangan tambahan. Ibnu Abbas bertanya kepada Nabi ﷺ:
“Wahai Rasulullah, dan siapakah para pengembala, orang yang tidak
memakai sandal, dalam keadaan lapar dan yang miskin itu?” Beliau
menjawab, “Orang Arab.” (Musnad Ahmad, IV/332-334, no. 2926).
Emirat Dubai
Dubai adalah salah satu emirat di wilayah Uni Emirat Arab (UAE). UAE
sendiri merupakan sebuah negara federasi yang terdiri dari tujuh emirat
yang kaya akan minyak bumi. Tujuh emirat ini adalah: Abu Dhabi, Ajman,
Dubai, Fujairah, Ras al-Khaimah, Sharjah, dan Umm al-Qaiwain. Pada tahun
1971, enam dari emirat ini – Abu Dhabi, Ajman, Fujairah, Sharjah,
Dubai, dan Umm al-Qaiwain – bergabung untuk mendirikan Uni Emirat Arab.
Setahun berikutnya, Ras al-Khaimah menyertai mereka. Dubai adalah
ke-emiran yang paling populer.
Ada yang mengatakan, nama kota ini berasal dari bahasa Persia. Karena
dulu wilayah ini berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Sasaniyah Persia.
Ada pula yang mengatakan kata Dubai berasal dari bahasa Arab dabba
(Arab: دَبَّ – يَدُبُّ) yang artinya menjalar atau mengalir. Karena di
Dubai terdapat aliran sebuah sungai air garam yang sekarang dikenal
dengan Khor Dubai atau Dubai Creek.
Dubai terletak di sepanjang pantai Teluk Arab dipimpin oleh keluarga
al-Maktoum sejak 1883. Pemimpinnya saat ini adalah Mohammed bin Rashid
al-Maktoum yang juga menjabat sebagai Perdana Menteri dan Wakil Presiden
UEA.
Dubai Sebelum Metropolis
Dalam wawancara dengan BBC, Syaikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum
menunjukkan rumah kakeknya, tempat bermain di masa kecilnya. Ia
mengatakan, “Inilah tempat ayahku, ibuku, dan kami tinggal. Saat aku
lahir tidak ada listrik di sini. Hanya bagian itu dan itu (ia menunjuk
dua titik tempat lampu menyala di rumah besar itu) dan tidak ada air”.
Pernyataan singkat ini, menggambarkan bagaimana keadaan Dubai sebelum
bertransofmasi menjadi kota metropolis. Rumah keluarga al-Maktoum,
keluarga Emir Dubai, adalah rumah yang gelap dan kesulitan air. Apalagi
rumah rakyat biasa.
Meskipun minyak sudah ditemukan sejak tahun 1966, tahun 1973, hanya
ada satu hotel berkelas di sana, Hotel Sheraton. Kalau sekarang malah
sangat sulit menemukan hotel yang tidak berbintang lima di Dubai, bahkan
ada hotel berbintang tujuh di sana.
Simaklah gambar dan video berikut untuk mengetahui kondisi Dubai sebelum menjadi kota metropolis: Sebuah pasar di pusat Kota Dubai pada tahun 1970Caravan onta di Dubai. Berlangsung antara tahun 1960an – 1970an.Dubai pada tahun 1960an-1970an
Video: Dubai tahun 1969
Dubai Metropolis
Islam adalah agama yang tidak menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Inovasi dalam hal dunia dibuka selebar-lebarnya selama
tidak melanggar syariat. Di zaman dahulu umat Islam terkenal dengan
kemajuan arsitekturnya. Oleh karena itu, tanda hari kiamat berupa
berlomba-lombanya manusia dalam meninggikan bangunan tidak dikategorikan
sebagai permasalahan yang nilai dasarnya jelek. Bahkan bisa jadi
pembangunan ini bermanfaat dan maslahat. Dubai Modern
Sekarang di Dubai, semuanya serba besar, luas, dan tinggi. Megah,
mewah, sampai membuat mulut ternganga. Dubai adalah kota dengan
pertumbuhan tercepat di dunia. Gurun yang kosong telah berubah menjadi
gedung-gedung pencakar langit. Onta-onta telah berubah menjadi Ferrari,
Mercedes, Hummer, dll. Di antara bangunan tinggi di Dubai adalah:
Pertama: Burj Dubai atau yang dikenal Burj Khalifa,
Merupakan bangunan tertinggi di dunia. Tingginya 818 m, kurang 182 m
lagi jadi 1 Km. di dalamnya ada 30.000 rumah dan 9 hotel mewah. Kedua: 10 Hotel tertinggi di dunia, 7 di antaranya
ada di Dubai. Lima hotel tertinggi; JW Marriott Marquis Dubai (355 m),
Rose Rayhaan (333 m), Burj Al Arab (321 m) hotel termewah di dunia,
Jumeirah Emirates Towers Hotel (309 m), The Address Downtown Dubai (306
m), semuanya ada di Dubai. Ketiga: Shopping Mall terbesar di dunia adalah Dubai
Mall dengan luas 50 kali luas lapangan sepak bola dan terdapat 1.200
toko. Di dalamnya ada akuarium terbesar di dunia yang isinya 33.000
hewan laut. Keempat: al-Maktoum International Airport atau Dubai International Airport merupakan bandara terluas ke-3 di dunia. Kelima: Dubailand. Sekarang Walt Disney World Resort
di Orlando memegang rekor taman bermain terluas di dunia. Kalau
pembangunan Dubailand rampung, maka taman yang luasnya dua kali lipat
Walt Disney ini akan memegang rekor baru. Aquarium di Dubai Mall
Masih banyak lagi gedung-gedung tinggi dan bangunan-bangunan yang
‘wah’ di Dubai. Ada menara kembar Emirates Tower yang bentuknya seperti
dua batang cokelat Toblerone. Hotel bawah laut di kedalam 33 m. Gedung
68 lantai, yang tiap lantainya bisa berputar 360°. Belum lagi pulau
buatannya seperti The World terdapat 300 pulau buatan membentuk peta
dunia. Kemudian juga Palm Island yang terdapat 2000 vila dan 40 hotel
mewah. Belum lagi kendaraan super mewah. Anda masih berpikir orang Arab
identik mengendarai onta? Ubah segera perspektif lama itu. Di Dubai,
mobil mewah berlapis perak dan emas pun ada. Sampai-sampai polisi Dubai
layak disebut World’s Fastest Police karena kendaraan mereka McLaren MP4-12C, Lamborghini, Aston Martin, Bentley, dan Ferrari.
Mereka yang dulu miskin, telanjang kaki, tak berbaju itu telah membuktikan kebenaran sabda Nabi ﷺ
. Pelajaran:
Penulis tidak menginginkan pembaca hanya terpaku dan terhenti dalam
khayalan, membayangkan kemegahan Duai. Bukan itu pesan yang ingin
disampaikan.
Cobalah renungkan Sabda Nabi ﷺ. Bernarlah apa yang beliau kabarkan.
Hal itu pula menunjukkan mukjizat beliau. Beliau mengabarkan tentang
sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Orang yang hidup di
masa tersebut akan menyaksikannya.
Beliau mengabarkan tentang orang-orang miskin berlomba-lomba
meninggikan bangunan. Hal itu telah terjadi. Dan kita telah menjadi
saksinya. Beliau mengabarkan tentang turunnya Nabi Isa, keluarnya
Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj, hal ini pun pasti terjadi. Orang yang hidup
di zamannya akan menjadi saksinya.
Dan beliau ﷺ mengabarkan tentang kenikmatan surga dan kengerian
neraka, orang yang percaya sebelum mereka menyaksikannya, merekalah
orang yang beruntung dan berbahagia. Orang yang baru percaya ketika
menyaksikannya, mereka benar-benar dalam penyesalan dan duka cita yang
mendalam.
“Saat ini, dunia itu nyata dan
neraka hanyalah cerita. Akan tetapi ketika di akhirat, Neraka adalah
nyata dan dunia hanyalah cerita.”
Sumber:
– al-Wabil, Yusuf bin Abdillah. TT. Asyrath as-Sa’ah. Dar Ibnu al-Jauzi.
– nationalgeographic.com
– wikipedia.org. dll. Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com
Entah mengapa, aku benci mereka, mungkin karena kedua adik
perempuanku mereka siksa dan bunuh secara keji di desa kami. Atau
mungkin karena ayahku mereka siksa dan tangkap bertahun-tahun lalu di
desa kami. Atau yang paling memungkinkan, karena mereka membantai
seluruh ibu-ibu di desa kami, termasuk ibuku! Intinya aku membenci
mereka dengan sejuta alasanku.
Merekalah yang selama ini senang akan segala penderitaan kami,
merekalah yang selalu mencari-cari alasan untuk menyiksa, membunuh,
memperkosa, atau merampas barang-barang kami. Mereka itulah Kaum yang
telah Allah kutuk dan murkai. Mereka Yahudi! Dan dengan segala sifat dan
keburukan yang mereka warisi dari nenek moyang mereka. Kini aku akan
membalas, aku dan dua kawanku akan membalas perbuatan mereka.
Kami berencana melakukan suatu hal yang pasti akan membuat setidaknya
kesal salah seorang tentara laknat itu, kami tahu, mungkin tidak akan
berpengaruh banyak bagi perlawanan ini, tapi kami tahu, itulah yang
mereka sangat benci dari negri kami, “Anak-anak yang sangat nakal dan
kurang ajar!” itu kata mereka.
Kami tidak sembarang memilih target, kami telah memantau, menilai dan
mengerjai mereka puluhan kali. Maka kami tahu sekarang, kami harus
mengincar tentara berpangkat tinggi agar mendapak efek yang luar biasa
besar. Tidak sulit bagi kami yang bertubuh kecil untuk bergerak tanpa
terlihat. Kami bertiga telah terbiasa puasa sehingga badan kami kurus
dan gesit.
Rencana kami adalah mempermalukan salah seorang perwira tentara itu
dengan membakar celananya tepat di bawah tempat duduk santainya. Ia
adalah Komandan resimen yang berkemah di dalam kota. Setiap pagi
kerjanya hanya mengamati para perajuritnya berbaris dan berteriak
menyuruh mereka membersihkan kota dari puing-puing bekas pemboman kota
tersebut. Kami tahu jadwal ia duduk di kursi malasnya itu, dan
kesempatan datang hari ini, bahan-bahan untuk melancarkan misi pun telah
terkumpul.
Pagi ini, sebelum Sang Komandan dan pasukannya bangun, seusai sholat
Subuh, kami mengendap-endap ke perkemahan kemudian meletakkan
bahan-bahan di bawah kursi Sang Komandan. Lalu kami pun pergi
bersembunyi. Tugaskulah untuk memastikan misi ini berjalan dengan
lancar. Maka kedua kawanku, Abdullah dan Amar, segera pergi untuk
sembunyi. Sementara aku sembunyi tak jauh dari kursi Komandan untuk
menyulut api pada kain panjang yang kami setengah kubur di pasir yang
berhubungan dengan kursi Komandan.
Setelah setengah jam menunggu, salah satu pasukan pun bangun dan
mulai membangunkan seluruh tentara kecuali Komandan. Tak lama kemudian
sambil berteriak dalam bahasa Ibrani Sang Komandan berteriak-teriak.
Pasukan pun segera berkumpul di depan tenda Komandan dalam keadaan
berbaris. Sekitar 30 jumlah mereka. Maka dengan bismillah aku memulai
aksi. Menyaksikan apiku merambat dengan cepat melalui kain, jantungku
berdegup keras.
Tak lama aku mendengar seseorang berteriak, tak salah lagi itu Sang
Komandan pasukan. Tanpa sadar aku pun tertawa, yang sebenarnya dapat
membahayakan diriku, namun aku tidak tertawa sendiri. Para pasukan
resimen itu pun tertawa melihat Komandan mereka tersulut api dan
melompat-lompat memegangi celananya yang hangus terbakar. Setelah api di
celananya padam dalam beberapa detik. Sontak Sang Komandan berteriak
dan seluruh pasukan berhenti tertawa, karena aku yang tidak mengerti
bahasanya, aku tetap tertawa, sehingga seluruh pasukan dan Sang Komandan
melihatku di tempat persembunyian. Sang Komandan berteriak lagi dan
seluruh pasukan terlihat akan mengejarku, dengan panik aku pun segera
berlari ke arah dua temanku bersembunyi. Aku berteriak, “Abdullah, Amar,
Lari!”
Mereka pun segera bangkit dan berlari, tiba-tiba aku mendengar
serentetan tembakan yang memekakkan telinga kecilku, lalu kulihat di
depanku, kedua kakak beradik temanku itu jatuh terjerembab dengan tak
kurang selusin luka tembak di punggung mereka masing-masing. Aku terpana
dan berhenti berlari.
Sekali lagi aku mendengar teriakan Komandan dan suara tembakan
terdengar, kali ini hanya satu tembakan. Segera kurasakan kakiku seperti
terbakar, aku tertembak. Kakiku seperti patah dan lumpuh. Sakitnya tak
pernah kurasakan. Aku pun terjatuh, tak lama kemudian muncul di atasku
tiga bayang-bayang tentara. Salah satunya adalah Komandan yang kami
sulut tadi. Mukanya merah bukan main. Ia memaksaku berdiri. Kemudian
meninju perutku dengan keras. Berkali-kali. Aku sudah tak bisa
berteriak, aku ingin menangis, lagi, dua temanku tewas di tangan mereka.
Kali ini di depan mataku. Aku terus menerus dipukul sehingga aku
pingsan.
Ketika terbangun aku berada di ruangan ini. Bersama seorang tua yang
sudah lumpuh. Aku bertanya padanya, “Di mana ini?” Ia menjawab dengan
senyum tulus, “Ini di rumah, karena kau tak mungkin meninggalkannya
lagi, sekolah kalau kau mau belajar, dan penjara jika kau ingin
menganggapnya begitu.”
Aku tak mengerti kata-kata bapak tua itu, tapi aku tahu ia benar soal
penjara, karena aku melihat besi-besi penghalang yang menghalangiku
keluar ruangan itu. Berhari-hari aku hanya tidur dan melamun. Aku makan
berdua dengan bapak tua itu, kami diberi jatah setengah potong roti basi
yang harus kami bagi berdua.
Aku sudah beberapa hari tidak sholat, karena aku tidak tahu bagaimana
aku harus berwudhu dengan air kami yang hanya segelas itu? Namun
kulihat bapak tua itu selalu melakukan gerakan-gerakan seperti sholat
dengan duduk setiap waktu sholat.
Akhirnya hari itu, setelah waktu Dzuhur yang aku tahu sudah lewat
beberapa jam yang lalu, aku bertanya padanya, “Kek, bagaimana caranya
sholat tanpa air?”
Ia menjawab, “bertayamumlah Nak.”
“Bagaimana caranya?” aku bertanya.
Maka ia mengajariku cara-cara bertayamum dengan debu pada dinding
penjara. Mulai hari itu aku pun sholat dengan bertayamum dan berjama’ah
dengan kakek itu setiap waktu sholat tiba.
Setelah aku rasa sebulan aku di sel itu, seorang tentara datang dan
membuka pintu sel kami. Ia menyuruhku untuk mengikutinya dengan bahasa
yang aku kenal. Aku pun pergi mengikutinya. Kami pergi melalui sebuah
lorong panjang yang di kanan kirinya terdapat pintu-pintu seiring aku
lewat, aku mendengar teriakan dan rintihan dari balik pintu-pintu
tersebut, aku merinding dan takut.
Sampailah aku pada suatu pintu di mana tentara yang membawaku itu pun
berhenti. Ia memerintahkanku untuk masuk kedalam ruangan. Kemudian aku
masuk dan duduk di sebuah ruangan kosong tersebut. Sang tentara berbalik
keluar dan mengunci pintu tersebut. Sepuluh menit kemudian datanglah
seorang tentara berwajah muram dengan tas besar dan terlihat berat
membuka pintu dan duduk di kursi di depan meja di tengah-tengah ruangan
itu.
Ia bertanya padaku pertanyaan dalam bahasa ibuku, “Siapa namamu Nak?”
Aku menjawab, “Umar!”
Kemudian ia bertanya lagi, “Di mana rumahmu?”
“Kalian menghancurkan rumah dan seluruh desaku dan desa tetanggaku 2 tahun yang lalu!” jawabku marah.
“Lalu kau berniat membalas itu dengan membentuk kelompok-kelompok pemuda yang menggangu tentara kami di lapangan?”
Aku berkata sambil setengah tertawa, “Huh, kalian pikir kami sebanyak
itu eh? Satu-satunya kelompok yang kubentuk hanya beranggotakan tiga
orang dan kalian telah membunuh dua di antaranya sebelum aku tertangkap,
dan kini satu-satunya anggota yang tersisa hanyalah seorang anak muda
pincang yang ada di depanmu ini.”
Tentara itu marah dan menamparku dengan keras sambil berteriak,
“Jangan Bohong! Katakan! Di mana teman-teman kecilmu yang brengsek itu?”
Aku hanya terdiam sambil meringis dan berzikir. Dia marah dan
menendangku berkali-kali setiap tendangan aku bertakbir keras. Ia
semakin marah dan melakukan itu terus menerus hingga ia lelah.
Kemudian berkata, “Mungkin besok kau mau jujur, tapi hari ini aku ambil oleh-oleh darimu agar kau ingat untuk jujur esok.”
Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuh penjepit besar dari
dalamnya, ia mendekatiku dan menarik kakiku yang lumpuh. Kemudian ia
menjepit kuku ibu jari kakiku dan mulai menariknya. Karena rasa sakitnya
akupun berteriak dan hampir lupa menyebut nama Allah. Aku berteriak
sekeras-kerasnya karena sakitnya bukan main. Ia mencabut kuku jari
kakiku dengan penjepit tersebut. Aku pun menangis.
Ia berkata, “Itulah akibatnya jika bermain-main dengan kami anak kecil!”
Kemudian ia pun pergi dan masuklah tentara yang mengantarkanku tadi
dan menyuruhku untuk segera berdiri dan mengikutinya lagi. Sambil
meringis menahan sakit pada ibu jari kakiku akupun berdiri dan
mengikutinya pergi. Keluar ruangan dan menyusuri koridor tadi yang masih
dipenuhi teriakan dan rintihan dari balik pintu-pintu di kanan kirinya.
Tentara yang membawaku ini membawaku ke sebuah sel yang lebih besar
dari selku yang pertama, di dalamnya ada empat orang sedang duduk. Sang
tentara menyuruhku masuk setelah membuka sel tersebut, dan segera
menguncinya begitu aku masuk.
Seorang pria dan tiga orang pemuda yang kukira umurnya hanya berbeda
dua tahun dari umurku sekarang. Itulah penghuni sel baruku ini. Pria
yang paling tua mendekatiku dan merobek bagian lengan bajunya dan
mengikatnya di ibu jari kakiku yang kukunya sudah tidak ada dan masih
mengucurkan darah itu.
Ia bertanya, “Apa yang mereka tuduhkan atasmu?”
“Mereka menuduhku membuat kelompok-kelompok anak kecil yang mengganggu pasukan mereka di lapangan,” jawabku lemah.
“Apakah kau melakukan itu semua?” tanyanya lagi.
Aku menjawab, “Yang kulakukan adalah bersama kedua temanku mengerjai Komandan mereka, hingga mereka membunuh kedua temanku itu”.
Ia berkata, “Mereka memang selalu menuduh kita berlebihan, mereka
hanya ingin menyiksa kita, lebih baik kalau kau tutup mulut dan berzikir
untuk menghindari siksaan. Bacalah Al-Qur’an dalam hati agar
menenangkan.”
“Aku belum bisa membaca Al-Qur’an dan belum hafal banyak surat-surat
pendek, ayahku ditangkap ketika aku kecil dan ibuku meninggal saat
pembantaian di desa kami, aku selamat karena saat itu sedang menginap di
rumah tanteku di kota,” jawabku.
“Kalau begitu, belajarlah denganku dan ketiga anakku, Faiz, Zaid dan Yahya. Dan aku Musthofa,” katanya.
“Kami berhasil menyelundupkan Al-Qur’an ke sini,” lanjutnya lagi.
“Baiklah, aku akan belajar darimu, namaku Umar!” kataku.
Sejak itu aku sholat, makan, dan belajar Qur’an dengan ustadz
Musthofa dan ketiga anaknya. Ustadz Musthofa ternyata memang seorang
guru mengaji dan sudah hafal 30 juz Al-Quran di luar kepalanya. Ia pun
membaca dengan lembut dan tartil. Selama beberapa bulan aku belajar
bersamanya.
Hingga suatu hari setelah belajar Al-Qur’an aku bercerita tentang
hari kedatanganku ke penjara ini. Dan aku bertanya pada ustadz Musthofa
tentang pria tua yang satu sel denganku pertama kali, dia menjawab
dengan berseri-seri, “Dia adalah guru kami semua di penjara ini, ia
adalah inspirasi anak-anak muda kita, ia adalah Sheikh Ahmad Yassien, ia
akhirnya dibebaskan belum lama ini, alhamdulillah.”
Aku hanya menganguk-angguk tidak mengerti pengaruh pria tua itu
terhadap orang-orang di penjara ini. Setahun sudah aku belajar Qur’an
dengan ustadz Musthofa. Dan dari hasil didikannya akupun kini tidak
terlalu banyak mengeluh dalam ruang interogasi, bahkan aku tidak
menjawab apapun pertanyaan-pertanyaan palsu mereka. Biarpun mereka
mencabut beberapa lagi kuku-kuku kakiku, aku pun tidak terlalu merasa
sakit, karena aku tahu aku memiliki obatnya, yaitu Al-Qur’an, yang
semakinku baca semakin berkurang rasa sakitku. Hingga pada suatu ketika,
di ruang interogasi. Pria yang biasa menyiksaku kini menampilkan wajah
senang yang luar biasa.
Aku tidak takut lagi terhadapnya, karena sudah hampir habis kuku-kuku
di jari tangan maupun kakiku. Namun dia berwajah senang dan aku agak
mengkhawatirkan hal itu, karena apa pun yang membuatnya senang adalah
berkaitan dengan kesakitanku. Dia berkata, “Aku membawa bukti sekarang
anak kecil.”
“Tiga orang bukti dan saksi yang kami tangkap melakukan keusilan yang
serupa dengan yang kau lakukan pada pasukan kami di lapangan.”
“Mereka anak kecil, dan mereka mengaku berasal dari desa yang sama tempat kau tinggal dulu,” katanya.
“Aku akan menyiksa mereka di depanmu sampai kau mengaku bahwa kaulah
pemimpin mereka, atau mereka mengaku di bawah kepemimpinanmu.”
Aku hanya diam. Lalu masuklah tiga anak kecil yang umurnya lebih muda
sdariku sekitar 3 tahun. Mereka semua berwajah ketakutan. Sang penyiksa
mengeluarkan belati dari dalam tasnya dan mendekati ketiga anak kecil
tersebut. Aku hanya melihat dari kursiku dalam keadaan terikat erat.
Ia mengitari mereka satu kali dan bertanya kepada yang paling kanan, “Siapa namamu?”
Anak kecil itu dengan gemetar menjawab, “H…Hasan.”
“Apakah kau mengenali kakak ini eh, Hasan?” tanya Sang penyiksa.
Hasan menjawab, “A…Aku tidak mengenalnya.”
Lalu Sang penyiksa dengan marah mencengkeram rambut Hasan dan
menempelkan belati pada pipinya, dan mulai mengiris pipi tersebut sambil
berkata, “Berani berbohong eh?”
Hasan berteriak kesakitan. Aku miris mendengarnya namun tetap diam sambil berdoa untuk kekuatan Hasan.
Kemudian Sang penyiksa melepas Hasan setelah kedua pipinya tergores luka dalam dan mengucurkan darah. Hasan tetap menangis.
Sang penyiksa berdiri di tengah kedua anak kecil lainnya sambil mengamati mereka bergantian.
Kemudian menatapku dan berkata, “Belum mau mengaku kalau mereka anak buahmu eh? Bocah kurang ajar!”
Aku diam dan berharap ia tidak menyiksa kedua anak lainnya.
Namun harapanku pupus, ia malah semakin memperparah siksaan terhadap
kedua anak lainnya, hingga hatiku miris dan tanpa sadar aku berteriak,
“Berhenti!”
“Aku memang pemimpin mereka, aku yang memerintahkan mereka mengganggu pasukanmu,” kataku berbohong.
Ia tertawa. “Ha ha ha, kini kau mengaku setelah melihat anak buahmu
disiksa, padahal aku baru saja mulai bersenang-senang,” katanya bengis.
“Tapi tidak apa, aku masih banyak waktu untuk menyiksa mereka, tapi
kau, kau akan kami hukum mati besok, karena pengakuanmu ini,” Sang
penyiksa berkata lagi.
Lalu ia keluar dan menyuruh sorang tentara membawa kami berempat menuju sel kami dan bertemu dengan ustadz Musthofa.
Aku menceritakan segala kejadian yang berlangsung di dalam ruang
interogasi dan ia berkata, “Subhanallah, kau telah ditetapkan untuk
syahid demi menolong anak-anak terlantar ini Nak. Insya Allah Jannah
Firdaus akan menantimu,” aku hanya mengangguk dan mencari posisi untuk
tidur malam itu. Sebelum tidur aku menulis memo. Lalu aku
mengulang-ulang hafalanku sambil berbaring.
Pagi itu Umar bangun dan terlihat tenang sekali, seusai sholat shubuh
berjama’ah, ia dan kedelapan penghuni sel yang sempit itu mengaji
bergantian. Dengan hanya satu mushaf dan dengan penerangan yang sangat
minim.
Sebelum matahari terbit, datang tiga orang tentara Yahudi membuka sel
dan menarik Umar. Mereka membawa Umar pagi itu. Hingga siang hari,
tidak ada tanda-tanda kembalinya Umar.
Salah seorang penghuni sel itu, ustadz Musthofa, bertanya kepada
tukang bersih-bersih yang selalu lewat sel mereka, “Ke mana anak muda
itu mereka bawa pergi?” tanyanya.
Ia menjawab, “Mereka membawanya ke tengah lapangan dan
menelanjanginya dan mengikatnya di belakang kuda, sambil memacu kudanya
dan yang lain menembaki kaki pemuda itu dan ia diseret dengan cara
seperti itu hingga ia tewas.”
Ustadz Musthofa kaget dan kemudian berkata, “Innalillahi wainnailaihi
raajiuun, sungguh kejam mereka,” ia memberi tahu kabar ini kepada
ketiga anaknya dan kepada ketiga anak kecil di sel mereka, dan mereka
pun mendoakan Umar.
Siang itu, setelah mereka sholat dan makan, ketika hendak mengaji,
mereka mencium aroma yang luar biasa wangi dan semerbak di seluruh
ruangan, dan terutama wangi yang keluar dari mushaf yang mereka pegang,
sungguh harum baunya, sampai ustadz Musthofa berkata, “Mungkin ini
adalah aroma parfum saudara kita Umar, ia telah dijemput dan dimandikan
bidadari hari ini, dan aromanya tercium hingga ke mari.”
Hari itu, bumi kehilangan satu lagi mujahid tangguh, mujahid
bertamengkan Al-Qur’an, mujahid muda yang berani, dan seorang Hafidz.
(Senin, 22 Desember 2003, Asy-Syahid Al-Hafidz Umar al-Faroouq, 14 tahun, Penjara Nablus, Israel)
Al-Hamdulillah,
segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah
–Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Dua
Rakaat Fajar adalah nama lain dari shalat sunnah ratibah (shalat sunnah yang
mengiringi shalat fardlu) Shubuh. Shalat ini dikerjakan sebelum shalat Shubuh.
Sebagian masyarakat kita menyebutnya Qabliyah Shubuh.
Cara
pelaksanaannya yang benar, setelah seseorang berwudhu dan sudah yakin masuk
waktu shubuh atau setelah muadzin mengumandangkan adzan Shubuh, ia berdiri
shalat dua rakaat sebelum shalat fardhu Shubuh.
Dua
rakaat (Shalat Sunnah) fajar termasuk shalat sunnah mu’akkadah; sangat
ditekankan untuk dilaksanakan. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam
senantiasa menjaganya; baik saat di tempat tinggalnya ataupun safar.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits 'Aisyah, “Bahwasanya Nabi Shallallahu
'Alaihi Wasallam tidak pernah meninggalkannya (dua rakaat sebelum shubuh)
sama sekali." (HR. Bukhari dan Muslim)
Masih
dari Ummul mukmini binti Abi Bakar ini, berkata:
لَمْ يَكُنْ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَلَى شَيْءٍ مِنْ
اَلنَّوَافِلِ أَشَدَّ تَعَاهُدًا مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيْ اَلْفَجْرِ
“Nabi
Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak pernah memperhatikan shalat-shalat sunat
melebihi perhatiannya terhadap dua rakaat fajar.” (Muttafaq Alaihi)
Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah kesiangan melaksanakan shalat Shubuh
dalam satu perjalanan. Beliau bangun saat matahari sudah terbit. Kemudian
beliau menyuruh Bilal untuk mengumandangkan adzan. Lalu beliau wudhu dan shalat
fajar dua rakaat yang diikuti oleh para sahabat. Kemudian beliau menyuruh Bilal
mengumandangkan iqamah dan beliau shalat Shubuh bersama mereka.” (HR. Abu Dawud
dan dishahihkan Syaikh Al-Albani)
“Dua
rakaat fajar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim)
Imam
Nawawi Rahimahullah memaknakan lebih baik dari dunia, yaitu dari
kenikmatannya.
Syaikh
Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassaam –semoga Allah ampuni dosa beliau dan kedua
orang tuanya-, dalam Taudhih Al-Ahkam (2/382) berkata, “Sesungguhnya dua rakaat
Fajar adalah shalat rawatib paling utama, keduanya lebih baik daripada dunia
dan apa yang ada di dalamnya. Sungguh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam
tidak pernah meninggalkan keduanya saat di tempat tinggalnya dan tidak pula
saat safar.”
. . . Sesungguhnya dua rakaat Fajar adalah shalat rawatib paling
utama, keduanya lebih baik daripada dunia dan apa yang ada di dalamnya. . . -Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassaam-
Kapan
Waktunya?
Sebagian
orang ada yang memahami dua rakaat fajar itu shalat sunnah dua rakaat sebelum
masuk Shubuh, yakni sebelum adzan. Ini pemahaman yang salah. Bahwa dua rakaat
fajar itu adalah qabliyah Shubuh itu sendiri, bagian dari shalat sunnah
rawatib. Siapa yang mengerjakannya sebelum Shubuh, ia tak mendapatkan keutamaan
dua rakaat fajar. Ia hanya mendapatkan pahala shalat sunnah mutlak, karena
waktu itu adalah waktu bebas untuk shalat. [Baca: Mengerjakan Dua Rakaat Fajar Sebelum Adzan Shubuh, Sahkah?]
Syaikh
Muhammad bin Shalih Utsaimin dalam salah satu Fatawanya menjelaskan, “Shalat
dua rakaat fajar yang dikerjakan sebelum shubuh tidak sah. Tidak terhitung
sebagai shalat sunnah rawatib. Shalat tersebut menjadi shalat sunnah mutlak. Ia
diberi pahala shalat nafilah saja.”
Kemudian beliau menasihatkan kepada penanya,
saat adzan shubuh selesai dikumandangkan, ia mengulangi shalat rawatib. Dan ia
mendapatkan pahala dua rakaat fajar. Wallahu A’lam
Dua Rakaat Fajar Lebih Baik dari Dunia & Seisinya; Kapan Pelaksanaannya?
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah,
Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu
'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Dua Rakaat Fajar adalah nama lain dari
shalat sunnah ratibah (shalat sunnah yang mengiringi shalat fardlu)
Shubuh. Shalat ini dikerjakan sebelum shalat Shubuh. Sebagian masyarakat
kita menyebutnya Qabliyah Shubuh.
Cara pelaksanaannya yang benar, setelah
seseorang berwudhu dan sudah yakin masuk waktu shubuh atau setelah
muadzin mengumandangkan adzan Shubuh, ia berdiri shalat dua rakaat
sebelum shalat fardhu Shubuh.
Dua rakaat (Shalat Sunnah) fajar termasuk shalat sunnah mu’akkadah; sangat ditekankan untuk dilaksanakan. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam
senantiasa menjaganya; baik saat di tempat tinggalnya ataupun safar.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits 'Aisyah, “Bahwasanya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak pernah meninggalkannya (dua rakaat sebelum shubuh) sama sekali." (HR. Bukhari dan Muslim)
Masih dari Ummul mukmini binti Abi Bakar ini, berkata:
لَمْ يَكُنْ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَلَى شَيْءٍ مِنْ اَلنَّوَافِلِ أَشَدَّ تَعَاهُدًا مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيْ اَلْفَجْرِ
“Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam
tidak pernah memperhatikan shalat-shalat sunat melebihi perhatiannya
terhadap dua rakaat fajar.” (Muttafaq Alaihi)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam
pernah kesiangan melaksanakan shalat Shubuh dalam satu perjalanan.
Beliau bangun saat matahari sudah terbit. Kemudian beliau menyuruh Bilal
untuk mengumandangkan adzan. Lalu beliau wudhu dan shalat fajar dua
rakaat yang diikuti oleh para sahabat. Kemudian beliau menyuruh Bilal
mengumandangkan iqamah dan beliau shalat Shubuh bersama mereka.” (HR.
Abu Dawud dan dishahihkan Syaikh Al-Albani)
“Dua rakaat fajar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim)
Imam Nawawi Rahimahullah memaknakan lebih baik dari dunia, yaitu dari kenikmatannya.
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman
Al-Bassaam –semoga Allah ampuni dosa beliau dan kedua orang tuanya-,
dalam Taudhih Al-Ahkam (2/382) berkata, “Sesungguhnya dua rakaat Fajar
adalah shalat rawatib paling utama, keduanya lebih baik daripada dunia
dan apa yang ada di dalamnya. Sungguh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak pernah meninggalkan keduanya saat di tempat tinggalnya dan tidak pula saat safar.”
. . .
Sesungguhnya dua rakaat Fajar adalah shalat rawatib paling utama,
keduanya lebih baik daripada dunia dan apa yang ada di dalamnya. . . -Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassaam-
Kapan Waktunya?
Sebagian orang ada yang memahami dua
rakaat fajar itu shalat sunnah dua rakaat sebelum masuk Shubuh, yakni
sebelum adzan. Ini pemahaman yang salah. Bahwa dua rakaat fajar itu
adalah qabliyah Shubuh itu sendiri, bagian dari shalat sunnah rawatib.
Siapa yang mengerjakannya sebelum Shubuh, ia tak mendapatkan keutamaan
dua rakaat fajar. Ia hanya mendapatkan pahala shalat sunnah mutlak,
karena waktu itu adalah waktu bebas untuk shalat. [Baca: Mengerjakan Dua Rakaat Fajar Sebelum Adzan Shubuh, Sahkah?]
Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin
dalam salah satu Fatawanya menjelaskan, “Shalat dua rakaat fajar yang
dikerjakan sebelum shubuh tidak sah. Tidak terhitung sebagai shalat
sunnah rawatib. Shalat tersebut menjadi shalat sunnah mutlak. Ia diberi
pahala shalat nafilah saja.”
Kemudian beliau menasihatkan kepada
penanya, saat adzan shubuh selesai dikumandangkan, ia mengulangi shalat
rawatib. Dan ia mendapatkan pahala dua rakaat fajar. Wallahu A’lam.
-
See more at:
http://www.voa-islam.net/read/ibadah/2014/11/11/33846/dua-rakaat-fajar-lebih-baik-dari-dunia-seisinya-kapan-pelaksanaannya/#sthash.bNYoxJKu.dpuf
Cinta
bisa jadi merupakan kata yang paling banyak dibicarakan manusia.
Setiap orang memiliki rasa cinta yang bisa diaplikasikan pada banyak
hal. Wanita, harta, anak, kendaraan, rumah dan berbagai kenikmatan
dunia lainnya merupakan sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia.
Cinta yang paling tinggi dan mulia adalah cinta seorang hamba kepada
Rabb-nya.
Kita sering mendengar kata yang terdiri dari lima huruf: CINTA…
Setiap
orang bahkan telah merasakannya, namun sulit untuk mendefinisikannya.
Terlebih untuk mengetahui hakikatnya. Berdasarkan hal itu, seseorang
dengan gampang bisa keluar dari jeratan hukum syariat ketika bendera
cinta diangkat. Seorang pezina dengan gampang tanpa diiringi rasa malu
mengatakan, “Kami sama-sama cinta, suka sama suka.” Karena
alasan cinta, seorang bapak membiarkan anak-anaknya bergelimang dalam
dosa. Dengan alasan cinta pula, seorang suami melepas istrinya hidup
bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu sedikitpun.
Demikianlah
bila kebodohan telah melanda kehidupan dan kebenaran tidak lagi
menjadi tolok ukur. Dalam keadaan seperti ini, setan tampil mengibarkan
benderanya dan menabuh genderang penyesatan dengan mengangkat cinta
sebagai landasan bagi pembolehan terhadap segala yang dilarang Allah dan
Rasul-Nya, Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
“Dijadikan
indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini
yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas,
perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah
kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Ali ‘Imran: 14)
Dalam haditsnya dari shahabat Tsauban, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasaalam bersabda: “Hampir-hampir
orang-orang kafir mengerumuni kalian sebagaimana berkerumunnya di atas
sebuah tempayan.’ Seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah jumlah
kita saat itu sangat sedikit?’ Rasulullah berkata: ‘Bahkan kalian saat
itu banyak akan tetapi kalian bagaikan buih di atas air. Dan Allah
benar-benar akan mencabut rasa ketakutan dari hati musuh kalian dan
benar-benar Allah akan campakkan ke dalam hati kalian (penyakit)
al-wahn.’ Seseorang bertanya: ‘Apakah yang dimaksud dengan al-wahn wahai
Rasulullah?’ Rasulullah menjawab : ‘Cinta dunia dan takut mati.’ (HR. Abu Dawud no. 4297, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 3610)
Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan: “Allah
memberitakan dalam dua ayat ini (Ali ‘Imran: 13-14) tentang keadaan
manusia kaitannya dengan masalah lebih mencintai kehidupan dunia
daripada akhirat, dan Allah menjelaskan perbedaan yang besar antara dua
negeri tersebut. Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan bahwa hal-hal
tersebut (syahwat, wanita, anak-anak, dsb) dihiaskan kepada manusia
sehingga membelalakkan pandangan mereka dan menancapkannya di dalam
hati-hati mereka, semuanya berakhir kepada segala bentuk kelezatan jiwa.
Sebagian besar condong kepada perhiasan dunia tersebut dan
menjadikannya sebagai tujuan terbesar dari cita-cita, cinta dan ilmu
mereka. Padahal semua itu adalah perhiasan yang sedikit dan akan hilang
dalam waktu yang sangat cepat.”
Definisi Cinta
Untuk
mendefinisikan cinta sangatlah sulit, karena tidak bisa dijangkau
dengan kalimat dan sulit diraba dengan kata-kata. Ibnul Qayyim
mengatakan: “Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan
bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur
dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah adanya cinta itu
sendiri.” (Madarijus Salikin, 3/9)
Hakikat Cinta
Cinta
adalah sebuah amalan hati yang akan terwujud dalam (amalan) lahiriah.
Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah, maka ia
akan menjadi ibadah. Dan sebaliknya, jika tidak sesuai dengan ridha-Nya
maka akan menjadi perbuatan maksiat. Berarti jelas bahwa cinta adalah
ibadah hati yang bila keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke
dalam sesuatu yang dimurkai Allah yaitu kesyirikan.
Cinta kepada Allah
Cinta
yang dibangun karena Allah akan menghasilkan kebaikan yang sangat
banyak dan berharga. Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (3/22)
berkata: ”Sebagian salaf mengatakan bahwa suatu kaum telah mengaku cinta kepada Allah lalu Allah menurunkan ayat ujian kepada mereka:
“Katakanlah: jika kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.” (Ali ‘Imran: 31)
Mereka (sebagian salaf) berkata: “(firman
Allah) ‘Niscaya Allah akan mencintai kalian’, ini adalah isyarat
tentang bukti kecintaan tersebut dan buah serta faidahnya. Bukti dan
tanda (cinta kepada Allah) adalah mengikuti Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wassalam, faidah dan buahnya adalah kecintaan Allah kepada
kalian. Jika kalian tidak mengikuti Rasulullah Shallallahu’alaii
wassalam maka kecintaan Allah kepada kalian tidak akan terwujud dan akan
hilang.”
Bila demikian keadaannya, maka mendasarkan cinta
kepada orang lain karena-Nya tentu akan mendapatkan kemuliaan dan nilai
di sisi Allah. bersabda Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan dari
Anas bin Malik :
“Tiga hal yang barangsiapa ketiganya ada
pada dirinya, niscaya dia akan mendapatkan manisnya iman. Hendaklah
Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan
hendaklah dia mencintai seseorang dan tidaklah dia mencintainya
melainkan karena Allah, dan hendaklah dia benci untuk kembali kepada
kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana
dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa di antara sebab-sebab adanya cinta (kepada Allah) ada sepuluh perkara:
1. Membaca Al Qur’an, menggali, dan memahami makna-maknanya serta apa yang dimaukannya.
2. Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib.
3. Terus-menerus berdzikir dalam setiap keadaan.
4. Mengutamakan kecintaan Allah di atas kecintaanmu ketika bergejolaknya nafsu.
5. Hati yang selalu menggali nama-nama dan sifat-sifat Allah, menyaksikan dan mengetahuinya.
6. Menyaksikan kebaikan-kebaikan Allah dan segala nikmat-Nya.
7. Tunduknya hati di hadapan Allah
8. Berkhalwat (menyendiri dalam bermunajat) bersama-Nya ketika Allah turun (ke langit dunia).
9. Duduk bersama orang-orang yang memiliki sifat cinta dan jujur.
10. Menjauhkan segala sebab-sebab yang akan menghalangi hati dari Allah . (Madarijus Salikin, 3/18, dengan ringkas)I
Cinta adalah Ibadah
Sebagaimana
telah lewat, cinta merupakan salah satu dari ibadah hati yang memiliki
kedudukan tinggi dalam agama sebagaimana ibadah-ibadah yang lain.
Allah Subhanahu wa taala berfirman:
“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.” (Al-Hujurat: 7)
“Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)
“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (Al-Maidah: 54)
adalah
hadits Anas yang telahrAdapun dalil dari hadits Rasulullah disebut di
atas yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim: “Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.”
Macam-macam cinta
Di
antara para ulama ada yang membagi cinta menjadi dua bagian dan ada
yang membaginya menjadi empat. Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdulwahhab
Al-Yamani dalam kitab Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid (hal. 114)
menyatakan bahwa cinta ada empat macam:
1. Cinta ibadah.
Yaitu mencintai Allah dan apa-apa yang dicintai-Nya, dengan dalil ayat dan hadits di atas.
2. Cinta syirik.
Yaitu mencintai Allah dan juga selain-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan
di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai
tandingan-tandingan (bagi Allah), mereka mencintai tandingan-tandingan
tersebut seperti cinta mereka kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)
3. Cinta maksiat.
Yaitu
cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yang diharamkan
Allah dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Allah
berfirman:
“Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang sangat.” (Al-Fajr: 20)
4. Cinta tabiat.
Seperti
cinta kepada anak, keluarga, diri, harta dan perkara lain yang
Idibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allah
berfirman:
“Ketika mereka (saudara-saudara Yusuf ‘alaihis salam) berkata: ‘Yusuf dan adiknya lebih dicintai oleh bapak kita daripada kita.” (Yusuf ; 8 )
Jika
cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan
kepada Allah sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban, maka berubahlah
menjadi cinta maksiat. Bila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih
cinta kepada benda-benda tersebut sehingga sama seperti cinta kita
kepada Allah atau bahkan lebih, maka cinta tabiat ini berubah menjadi
cinta syirik.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa yang
menggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta, takut, dan
harapan. Dan yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu sendiri
merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat.”
(Majmu’ Fatawa, 1/95)
Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di menyatakan ” Dasar
tauhid dan ruhnya adalah keikhlasan dalam mewujudkan cinta kepada
Allah. Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya,
bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid
kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya juga sempurna.” (Al-Qaulus Sadid, hal. 110)
Bila
kita ditanya bagaimana hukumnya cinta kepada selain Allah? Maka kita
tidak boleh mengatakan haram dengan spontan atau mengatakan boleh secara
global, akan tetapi jawabannya perlu dirinci.
1. Bila dia
mencintai selain Allah lebih besar atau sama dengan cintanya kepada
Allah maka ini adalah cinta syirik, hukumnya jelas haram.
2. Bila
dengan cinta kepada selain Allah menyebabkan kita terjatuh dalam
maksiat maka cinta ini adalah cinta maksiat, hukumnya haram.
3. Bila merupakan cinta tabiat maka yang seperti ini diperbolehkan.
Wallahu a’lam.
Dengan keterbatasan ilmu saya mencoba utk meluruskan penyebutan tuhan kepada Allah swt, Arti Tuhan
Tuhan berasal dari bahasa sansekerta dg asal kata tuh dan hyang tuh berarti kepala, dan hyang berarti dewa-dewa, jadi tuhan berarti kepala dewa-dewa, yang menandakan bahwa Allah adalah bagian dari dewa-dewa dan itu bermakna jamak tdk tunggal, padahal dlm kitab Alquran jelas, "katakanlah Allah itu maha esa," ( Qs. Al ikhlas 112:1 ).bagi
kita org islam jelas ini sesuatu hal yg kurang tepat bahkan bisa
cendrung masuk kedalam kesyirikan, klo bg org diluar islam wajar karena
dewa/ tuhan mereka memang byk ( lebih dari satu). mengapa kita tdk boleh memanggil tuhan? Allah
didalam alquran memiliki sebutan atau nama yg indah yg dinamakan asmaul
husna, dan Allah hanya ingin di panggil dg nama-nama itu,
" Hanya milik Allah asmaa-ul husna[585],
maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan
tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam
(menyebut) nama-nama-Nya[586]. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan."
( Qs. Al araaf 7:180 )
jadi
jelas dg ayat ini Allah hanya mnghendaki sebutan dg asmaul husna,
sementara tuhan tdk termasuk dan bkn asmaul husna, bahkan kata tuhan klo
diulang-ulang penyebutannya maka akan terdengar menjadi hantu...
jadi masihkah mau memanggil Allah dg kata tuhan.?